*Ternyata banyak juga ya yang baca blog ini.. Seneng deh.. Kita lanjutin ya ceritanya.. Ini Part terakhir lho.. Penasaran kan sama akhir ceritanya? Cekidot*
Suatu pagi, aku berkomunikasi dengan Dimas seperti biasa. Hanya lewat sms. Aku bilang kalau hari ini aku kuliah dan masuk pagi.
*sms*
Rei : "Met pagi sayang. Aku hari ini kuliah masuk pagi. Kamu kerja yang bener ya. Jangan telat makan juga."(padahal masih terbarung di Rumah Sakit)
Dimas : "Met pagi juga permaisuriku. Iya, ini aku udah ditempat kerja. Makasi sayang.. Kamu juga kuliah yang bener ya, buat masa depan kamu.mmuaachh.."(padahal sedang diperjalanan ke Jakarta)
Setelah percakapan lewat sms selesai, aku mulai melakukan aktivitas ku untuk makan , minum obat dan istirahat. Tubuhku semakin hari semakin melemah. Penglihatan ku merabun, rambut ku mulai banyak yang rontok bahkan tidak boleh disisir karena rambut ku begitu rapuh, dan pendengaran ku mulai sedikit terganggu. Dokter mengatakan penyakit yang ku idap ini adalah "Tumor Infratentorial" . Penyakit kanker otak paling ganas karena menyerang otak kecil yang membuat si penderita lupa dan tidak bisa mengingat masa lalu. Gejala yang ku alami adalah sakit kepala disertai mual sampai muntah, daya penglihatan berkurang, penurunan kesadaran, gangguan berbicara, gangguan pendengaran, gangguan berjalan / keseimbangan tubuh, gangguan saraf, anggota gerak melemah. Itulah yang ku alami minggu-minggu ini. Hal ini begitu menyiksa ku.
Tiap hari aku harus minum obat dalam bentuk kapsul dan tablet. Obatnya berjumlah 10 butir setiap kali minum. Apa yang harus ku katakan kepada Dimas nanti kalau dia tau keadaan ku yang seperti ini? Setiap kali aku mengingat Dimas, aku selalu meneteskan air mata. Mama yang selalu ada disampingku, menemani hari-hari ku pun mungkin mengerti apa yang aku rasakan. Mama selalu mengusap air mata ku jika menetes ke pipi.
Dalam hati aku berkata "Tuhan, terima kasih karena Kau telah mengirimkan orang-orang yang begitu sayang padaku. Kau ciptakan orang tua, teman, sahabat dan kekasih yang begitu menyayangi dan peduli dengan ku. Sujud syukur ku atas semua kenikmatan yang Kau berikan kepadaku. Terima kasih Tuhan."
Setiap hari perasaan antara bersalah dan siap atau tidak untuk meninggalkan orang yang ku sayang dan menyayangi ku selalu bergejolak dalam batin ku. Walau kata dokter, aku tidak boleh memikirkan hal berat karena itu lah penyebab yang paling cepat membuat penderita penyakit kanker otak semakin parah. Tapi aku sendiri tidak bisa memungkiri kalau hal itu selalu ada dalam pikiran ku.
Dimas yang ke Jakarta tanpa sepengetahuan ku, berniat ingin memberikan kejutan untukku. Dia datang kekampus ku. Tapi aku tidak ada dikampus. Karena sebenarnya aku sedang terbaring di Rumah Sakit. Dimas mencari ku di kampus. Hingga dia bertanya ke setiap mahasiswa yang ada disana "apakah kenal dengan aku?". Hingga dia bertemu dengan salah satu sahabatku dikampus
*Dikampus*
Dimas : " Permisi, lo kenal Reisha ga? Anak jurusan Akuntansi semester 6."
Fitri : " Reisha?? maksud lo si Rei?"
Dimas : "Iya, Rei. Lo kenal? Dia dimana ya?"
Fitri : "Loh, udah seminggu ini dia ga masuk kuliah. Dia kan di Rumah Sakit. Emang lo siapanya Rei."
Dimas : " Hah? (nada kaget) Lo serius? Tapi tadi pagi bilang sama gue kalo dia masuk kuliah hari ini. Lo jangan boong sama gue. Gue pacarnya Rei."
Fitri : " Gue ga boong sama lo. Gue ama emen-temen yang lain hari ini juga mau jenguk Rei di RS. Kalo lo ga percaya, Lo ikut kita aja kesana."
Dimas : "Oke , gue ikut kalian"
Akhirnya Dimas pergi bersama teman-teman dengan menggunakan mobil yang dibawa temanku. Sesampainya di Rumah Sakit, Dimas bersama teman-temanku datang ke ruang ku di 612. Awalnya aku senang melihat teman-temanku yang sayang padaku karena mau menjengukku dan memberiku semangat. Tapi, aku terkejut melihat Dimas bersama mereka.
*Di Rumah Sakit*
Rei : "Di... Dimas?? (nada sedikit gugup)"
Dimas : "Bebeb?? Kamu disini?"
Rei : " Maaf beib, aku...."(dengan nada sedih)
Dimas : "(sambil menghampiri ku seakan tak percaya melihat keadaan ku yang pucat) kamu kenapa ga pernah cerita sama aku kalo kamu sakit? Kamu mau rasain sakit ini sendiri? Aku kamu anggap apa?"(meneteskan air mata)
Rei : (mengusap air mata Dimas) " Maafin aku beib. Aku cuma ga mau kamu terlalu mengkhawatirkan ku. Nanti pekerjaan kamu terganggu. "
Dimas : " Liat, muka kamu pucat dan rambut kamu kusut gini. Sini aku sisirin biar kamu lebih cantik."
Rei : (menepis tangan Dimas yanng ingin menyisiri rambut ku) " Jangan beib. Biarin aku begini. Ini lah muka jelek ku disaat aku sakit "(sambil tersenyum untuk meyakinkan Dimas kalau aku tidak apa-apa)
Dimas : "Kenapa ga boleh? Ijinkan aku untuk menyisiri rambut kamu bep."
Tangan Dimas mulai menyisiri rambut ku yang rapuh. Setelah disisiri, begitu banyak rambut yang tertinggal di sisir itu. Dimas pun terkejut dan menangis.
Dimas : "Apa yang kamu rasain sayang? Apa yang terjadi sama kamu? Rei kenapa tante?" (dengan meneteskan air mata)
Mama yang ingin menjelaskan semua, langsung aku tahan agar mama tidak membicarakan apa yang telah terjadi dengan ku. Aku ingin aku saja yang menceritakan hal ini ke Dimas.
Mama : "(mulai meneteskan air mata) Dim, sebenernya....."
Rei : "Mah, biar aku aja yang menjelaskan semuanya." (mama pun terdiam)
Aku pun mulai mengusap air mata yang terus menetes di pipi Dimas. Aku ingin melihat Dimas tidak begitu sedih dengan melihat keadaan ku saat ini.
Rei : " Beib, aku minta maaf kaena aku telah berbohong sama kamu. Aku sayang kamu beib. Aku lakuin karena aku ga mau mengganggu kosentrasi kerja kamu. (dengan nada berat) Beib, badan ku mulai rapuh. Aku tak bisa lagi menemani hari-harimu nanti. Dokter sudah memvonis bahwa penyakit kanker yang aku derita ini sudah stadium 3. (aku memeluk Dimas) Maafkan aku beib. Aku sayang sama kamu. Jika kamu mau membenciku karena aku tlah berbohong, aku rela. Memang seharusnya itulah hukuman untuk aku yang telah berbohong sama kamu."
Dimas : (memelukku erat) " Ga bep, aku ga akan membenci mu hanya karena alasan itu. Aku mengerti alasan kenapa kamu berbohong. Kamu tau? Kedatangan ku kesini sebenarnya ingin memberi kejutan untuk mu. Aku membelikan mu cincin emas putih ini buat kamu. (melepaskan pelukan dan menyodorkan cincin yang dia bawa). Liat ini bep,kamu suka ga?" (sambil sedikit tersenyum)
Rei : (Aku pun tersenyum karena senang melihat cincin yang dia berikan) "Bagus banget cincinnya. Aku suka. Makasih sayang" (mencium pipi Dimas)
Dimas : "Tante, bolehkah aku melamar anak tante untuk kujadikan istri ku?"
Mama : " Hah?!! (kaget) Kamu yakin Dim? Keadaan Rei sedang sakit seperti ini."
Papa : " Dim, masih banyak wanita didunia ini. Bukan Rei doang. Kamu bisa menikahi wanita manapun selaen anak om yang usianya tidak lama lagi."
Dimas : "Om, aku sayang sama anak om. Aku ga perduli dia mau hidup berapa hari lagi. Karena aku ingin Rei menjadi istriku. Aku mohon om,ijinkan aku menikahi anak om (sambil bersujud dikaki papa dan menangis) Mungkin aku hanya cowok lemah yang gampang meneteskan air mata tapi ini kulakukan karena aku sayang sama anak om melebihi sayang ku pada diriku sendiri."
Karena papa melihat kesungguhan Dimas yang ingin menikahi ku, Papa pun merestui pernikahan aku dangan Dimas.
Papa : " Baiklah, om restui pernikahan kalian. Tapi kapan pernikahan itu akan dilaksanakan? Om takut Rei tidak mampu bertahan sampai acara akad nikah tiba."
Dimas : "Hari ini pernikahannya. Disini ada wali dari perempuannya yaitu om dan tante. Dan ada saksi yaitu teman-teman Rei. Ada cincin ini sebagai maskawin/ mahar nya. Om, nikahkan aku hari ini dengan anak om. Aku tak ingin menunggu waktu lama."
Aku terkejut mendengar ucapan Dimas. Ternyata dia begitu mencintaiku. Aku menangis karena tak percaya bahwa ada yang ingin menikahi ku dengan keadaan ku yang lemah dan rapuh seperti ini. Dan hari ini, di Rumah Sakit ini juga aku dan Dimas mengadakan pernikahan. Aku yang terbaring lemah ditempat tidur, didandani oleh mama dan dibantu teman2. Setelah semuanya telah siap, akad nikah pun dimulai. Dimas duduk dibawah tempat tidurku bersama papa.
Papa : " Oke, akad nikah akan dimulai. Bismillahirohmanirohim. Saya nikahkan dan kawinkan anak saya yang bernama Reisha Amanda Putri binti Deni Aslam dengan Dimas Gumilar bin Asep Sunarya dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas 2gram dibayar tunai."
Dimas : "Saya terima nikah dan kawinnya Reisha Amanda Putri binti Deni Aslam dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Papa : " Sah?"
Teman-teman : "Sah."
Papa : "Alhamdulillahirobbil alamin."
Akad nikah pun tlah selesai. Teman-teman berpamitan untuk pulang. Dan kini aku telah mnjadi istri sah Dimas. Dimas berniat mendaftarkan pernikahan ini di KUA besok. Dimas pun mulai mencium ku.
Dimas : "Kamu ga boleh berbohong lagi dengan suami mu. Maaf kalo maskawin yang aku persembahkan buat kamu hanya segini. Aku ingin membahagiakan mu.(sambil memelukku)"
Rei : "Aku sudah merasakan kebahagiaan sayang. Kebahagiaan ku adalah saat aku menjadi istri mu. Itu kebahagiaan yang ga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku bahagia menjadi istri mu."
Tapi tiba-tiba tubuhku mulai melemah. Pusing ini membuat ku mual dan muntah. Dengan sabarnya Dimas mengelapkan muntahan ku. Aku bersyukur pada Tuhan dalam hati "Tuhan, terima kasih. Kau telah menciptakan seorang imam untuk ku. Aku merasakan kebahagiaan disisa hidupku. Terima kasih Tuhan."
Dimas dengan sabar dan pengertian menyuapi ku dan melayani ku. Apa yang ku butuhkan, selalu Dimas lakukan dengan baik. Hingga waktu malam tiba.
Rei : " Beib, kamu ga pulang ke Bandung? ini udah jam setengah 7 malam. Nanti kamu kemaleman nyampe Bandung."
Dimas : "Aku ga akan tenang meninggalkan istri ku tercinta disini berjuang sendirian menghadapi penyakitnya. Aku tinggal disini. Ingin menemani hari mu dan melayanimu agar tetap semangat menjalani hidup ini bersama ku."(Duduk disampingku dan membelai rambutku)
Rambutku terus-terusan rontok. Bahkan sebagian kepala ku sudah kelihatan botak. Aku bersyukur karena Dimas sangat mengerti tentang keadaan ku ini.
Rei : (tersenyum) "Makasih sayang, kamu adalah suami ku yang paling aku cinta."
Aku muntah-muntah lagi. dan keadaan ini semakin parah. Aku menahan sekuat tenaga agar aku tidak muntah. Tapi ini ga berhasil. Aku muntah terus-terusan. Badanku melemah. Dimas yang melihatku begini, mulai panik. Aku merasakan denyut nadi ku tak berdetak teratur. Mata ku mulai tidak bisa melihat dan........................................
Dimas : " Bebep...(menggerak-gerakkan tubuhku) Bep, bangun bep. (mulai menangis dan memelukku) Bep,,,,,,,"
Mama dan papa juga panik dan memanggil dokter. Tapi tubuhku telah tak bernyawa. Aku meninggalkan suami ku dan kedua orang tuaku. Dimas yang mengetahui kalau aku udah ga bernayawa, meneteskan air mata.
Dimas : " Pah, Mah, Rei udah pergi. (masih memelukku dengan nada berat karena menangis) Kita harus ikhlas atas kepergian Rei. Aku ga mau Rei disana merasa tersiksa karena ketidak ikhlasan kita melepasnya pergi. Lagian Rei udah tenang disisi Tuhan. "
Mama dan papa menangis sambil memeluk Dimas.
Papa : " Kamu yang tabah ya Dim. Sekarang anak papa cuma kamu. Jangan tinggalin mama dan papa ya."
Dimas : " Iya mah,pah, Dimas ga akan meninggalkan kalian, Dimas sayang Rei dan sayang Mama dan Papa juga. Rei, jika aku bisa menyusulmu nanti, aku harap kamu yang menemani dan melayani ku di akhirat nanti."
_THE END_
*Cerita ini telah selesai.. Bagi pembaca, jangan sedih ya. Karena nanti akan ada cerita romance yang lain. Kami tunggu Saran dan Kritik kalian disini.. Bagi yang punya cerita, bisa berbagi disini. Dan insya allah kita posting cerita kalian.* ^_^ TERIMA KASIH
sedihhh nyaaa :'(
BalasHapusMakasi buat komentarnya...
HapusMemang banyak yang komen sedih dari cerpen pertama ini..
pertanda berhasil menggaet pembaca untuk sepikiran di cerpen ini..
Selamat membaca di cerpen selanjutnya ya.. ;)