Rabu, 04 April 2012

Ketulusan Cinta (Part 4)

* Makasih buat komen dan masukannya. jangan ragu-ragu buat komen di blog ini ya. Kita terima semua saran dan kritik kalian. Yuk, kita simak lanjutan ceritanya.*

Aku yang masih dalam keadaan tak sadar. Tapi aku masih bisa mendengar percakapan orang disekitar ku. Aku ingin sekali tau apa yang terjadi dalam diriku. Ga berapa lama, aku mendengar papa ku datang. Dan mama sambil menangis membicarakan apa yang telah dokter sampaikan ke mama.
Papa : " Ada apa ini ma? Kenapa mama menangis? (sambil memeluk mama)"
Mama : " Pah,Dokter tadi bilang ke mama tentang penyakit anak kita pah. (sambil menangis sesenggukan)"
Papa : "iya, kenapa sama anak kita? Ada apa ini dokter? Anak saya kenapa?"
Dokter : " Penyakit kanker otak yang diidap anak bapak sudah tahap stadium 3."
Papa : "Apa? (kaget) Dokter jangan bercanda ya"
Dokter : " Saya tidak bercanda. Ini keadaan yang sebenernya terjadi dengan anak bapak."
Mama semakin menangis. Aku yang belum sadar, tapi aku mendengar semua percakapan papa dengan dokter. Rasanya aku ingin menangis. Berarti usia ku tidak akan lama lagi. Papa pun juga ikut meneteskan air mata dan air mata itu menetes dilengan ku. Aku berbicara dalam hati, berdoa kepada Tuhan " Ya Tuhan, ini keputusan mu. Aku tau Kau sayang pada ku hingga Kau ingin mengambilku dari kedua orang tua ku. Tapi, aku mohon pada-Mu untuk memberikan kasih sayang pada orang-orang yang ku sayang". Aku mendengar mama duduk disampingku masih dalam keadaan menangis. Dan papa berusaha untuk menenangkan mama.

Beberapa jam kemudian, aku tersadar dalam tidurku panjangku.
Rei : "Maa.... Mamaaaa... (dengan nada lemah)"
Mama : "(menghampiri ku) Iya sayang, mama disini."
Rei : " Rei mual mah."
Mama : " Mama olesin minyak angin ya perutnya. (mengambil minyak angin dan mengusapkan ke perut dan leher ku)"
Rei : " Mah, aku kangen Dimas. (sambil memegang tangan mama)"
Mama : " Kamu hubungi dia aja. Nih (menyodorkan HP mungil ku)."
Rei : " Tapi aku ga mau Dimas tau tentang keadaan ku mah. Mama jangan cerita ke Dimas yah."
Mama : " Tapi Dimas harus tau keadaan kamu sayang. Supaya kamu bisa tau Dimas itu beneran sayang sama kamu atau ga. Kamu jadi tau, Dimas bisa nerima kamu atau ga dengan keadaan kamu yang seperti ini."
Sejenak aku berpikir, Ada benernya juga omongan mama. Tapi aku tetap tidak ingin membicarakan hal ini ke Dimas.
Rei : " Tapi mah, aku tetep ga mau Dimas tau."
Mama menganggukkan kepala yang berarti itu jawaban iya. Dan aku mulai berkomunikasi dengan Dimas.

Sudah hampir 1 minggu aku berbohong kepada Dimas kalau aku berangkat kuliah seperti biasanya. Padahal aku masih terbaring lemah di Rumah Sakit. Hingga sampai pada suatu hari dimana aku tidak mengetahui bahwa Dimas datang ke Jakarta untuk memberikan kejutan kepada ku.

*Apa kejutan yang ingin diberikan Dimas kepada ku? Apakah Dimas akan mengetahui penyakit yang ku derita? Dan bagaimana reaksi Dimas kalau tau tentang penyakitku?*

_Baca terus kelanjutan ceritanya. Dan berikan KOMEN atas pertanyaan diatas. Terima kasih bagi pembaca yang sudah membaca blog ini :) _

3 komentar: