Selasa, 03 April 2012

Ketulusan Cinta (Part 3)

*Karena ga ada yang komen, jadi kita lanjutin ceritanya*
Akhirnya aku memberitahukan juga tentang penyakitku kepada Dimas.
*Duduk dibangku taman*
Rei : "Sebenernya aku ingin cerita hal ini sama kamu. Tapi kamu janji dulu ya buat ga panik dan kecewa ama aku?"
Dimas : "Oke, aku janji. Kamu mau ngomong soal apa?"
Rei : "Soal penyakitku bep. Aku mengidap penyakit kanker otak"
Dimas : (dengan nada kaget) "HAHH?? Kank... kanker otak? Kamu serius? Jangan bercanda kamu bep"
Rei : "Aku ga bercanda. Ini serius. Aku ingin cerita ini dari dulu tapi aku ga berani  bilang ke kamu. Aku takut kehilanngan kamu. Aku takut kamu jauhin aku karena aku cewek penyakitan."
Dimas : "Ga lah,aku ga akan ninggalin kamu. Apa pun kekurangan yang ada didiri kamu, aku akan tetap sayang dan cinta kamu bep. Dan 1 hal yang kamu harus tau, cuma cowok bodoh yang meninggalkan pasangannya dalam keadaan susah."
Aku yang mendengar kata-kata dari Dimas itu, jadi semakin yakin kalau Dimas lah pujaan hati ku yang selama ini aku cari. Aku langsung memeluk erat dia. Seakan tangan ini tak mau melepaskan pelukan ku karena aku takut disaat aku melepasnya, aku akan kehilangan dia untuk selamanya.

Hari mulai gelap. Sudah saatnya Dimas harus pulang ke Bandung. Karena esok dia akan mulai bekerja lagi. Aku seakan tak sanggup melepaskan dia pergi. Tapi sebelum dia pergi, Dimas memberi ku 1 gantungan kunci berbentuk boneka teddy bear warna coklat. Dan aku pun mengantar dia hingga dia naik bis jurusan Bandung.

1 minggu telah berlalu dari semenjak aku bertemu dengan Dimas. Komunikasi aku dengan Dimas pun masih berjalan lancar tanpa hambatan. Keluarga ku pun sudah mengenal dia walau aku baru memperlihatkan foto Dimas kepada keluarga ku. Gantungan kunci pemberian dia, aku jadikan gantungan kunci kamarku, agar disaat aku masuk atau keluar kamar, aku teringat dia. Tapi malam ini, aku merasa kurang enak badan. Karena seharian dikampus menjalani aktivitas yang begitu padat. Malam itu aku masih berkomunikasi via telepon dengan Dimas. Dimas tau kalau aku kurang sehat dan dia pun menyuruh ku untuk istirahat yang cukup, makan dan jangan lupa untuk minum obat.

Keesokan harinya, aku berniat untuk tetap masuk kuliah karena ada Quiz di kampus yang mengharuskan semua mahasiswa masuk karena ini mata kuliah penting. Aku bersiap-siap karena masuk pagi. Disaat aku sedang sarapan, Mama sudah memberitahu agar aku tidak kuliah dulu. Tapi aku bilang ini kuliah penting dan aku akan tetap masuk. Dimas juga mengirimku sms yang berisi bahwa aku harus istirahat agar aku bisa fit. Tapi aku tidak mendengar kata-kata Dimas. Aku tetap berangkat seperti biasanya. Kekampus diantar oleh sopir kepercayaan mama. Sesampainya aku dikampus, aku melihat teman-teman sedang sibuk mempersiapkan diri untuk test Quiz nanti. Aku pun ikut untuk belajar bersama karena semalam aku tidak belajar.

Berselang beberapa lama, jam untuk Quiz hari ini telah usai. Tapi teman-teman menasehatiku agar aku beristirahat karena wajahku sudah sangat pucat seperti mayat hidup. Beberapa detik setelah temanku menasehatiku, Tubuhku oleng dan jatuh pingsan. Aku lanngsung dibawa ke UKS. Karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk ku melanjutkan perkuliahan hari ini, aku dipulangkan ke rumah. Sesampai dirumah, mama yang mendengar aku pingsan langsung menyuruh supir untuk membawa ku ke Rumah Sakit yang berlokasi tidak jauh dari rumah.

Saat diperjalanan, dari hidung ku mengeluarkan darah segar. Aku mengira bahwa itu hanya ingus yang mencair karena aku kedinginan. Tapi mama yang melihat darah dari hidungku, aku langsung diberi tisu untuk menahan darah agar tidak keluar.

Sesampai di Rumah Sakit, aku diperiksa oleh Dokter laki-laki tua. Dia menyarankan mama untuk info lebih jelas, diperiksa di Rumah Sakit Kanker di Jakarta karena peralatan di Rumah Sakit itu tidak memungkinkan untuk memeriksa keseluruhan. H ari itu juga aku langsung dibawa mama ke Rumah Sakit Kanker karena mama ingin mengetahui apa yang terjadi dalam tubuhku.

Selama diperjalanan ke Rumah Sakit Kanker, badan ku sudah sangat dingin. Entah karena AC mobil yang menyala atau karena tubuhku yang kurang fit. Hingga akhirnya aku tak sadarkan diri lagi. Tiba di Rumah Sakit, aku dibawa ke ruang UGD untuk langsung ditangani dokter karena keadaan ku yang semakin kritis. Setelah diperiksa, aku masih dalam  keadaan tidak sadarkan diri diruang pasien. Ku dengar mama menangis atas percakapan antara dokter dan mama. Mungkin dokter mengatakan sesuatu tentang penyakitku. Aku tidak sadar, tapi aku bisa mendengar tangisan mama. Aku yakin, ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada diriku. Dalam hati aku berdoa "Tuhan, apapun yang Kau putuskan untukku, aku akan terima itu. Tapi ku mohon, jaga selalu orang yang ku sayang disaat aku sudah tidak mampu menjaganya".

Tangisan mama membuat ku yakin bahwa ada musibah yang akan menimpa diri ku dan aku harus ikhlas menerima vonis dokter untuk ku.

*Apakah vonis yang dilontarkan dokter untukku? yang membuat mama ku menangis?*
_Mau tau lanjutannya? KOMEN yah.. Komen kalian, bisa melanjutkan kisah ini lho ^_^  thx ya_

2 komentar:

  1. bersambung. Haha
    Gambung ya di catatansigie.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. @egi : siap mas bro.. apanya nih yang digabung? ceritanya atau blognya?? hehehe

      Hapus